Selasa, 18 Agustus 2020

Materi Pembuahan pada Tumbuhan Angiospermae

Pembuahan ganda pada Angiospermae terjadi melalui proses berikut.

•Pembuahan pada Angiospermae diawali dengan proses penyerbukan yaitu proses meleburnya inti sperma dan ovum (sel telur) yang terjadi pada dasar putik untuk membuat embrio tumbuhan.

•Pembuahan yang terjadi pada Angiospermae adalah pembuahan ganda. Pembuahan ganda terjadi apabila dalam prosesnya terjadi dua kali pembuahan.

•Pembuahan ganda pada Angiospermae terjadi melalui proses berikut.

Pembuahan (Fertilisasi) 

1. Peleburan inti generatif satu dengan ovum membentuk zigot yang akan berkembang menjadi embrio.

2. Peleburan inti generatif dua dengan kandung lembaga sekunder membentuk endosperma (cadangan makanan).

Proses Pembuahan  Ganda Angispermae:

Pembuahan pada Angiospermae diawali dengan proses penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari pada kepala putik.

Setelah beberapa saat, serbuk sari akan berkecambah satu atau memunculkan sebuah saluran kecil yang dinamakan buluh sari. Buluh sari ini sebagai jalan menuju bakal biji (ovule).

Buluh sari kemudian tumbuh memanjang di dalam tangkai putik. Melalui buluh sari ini, inti serbuk sari berjalan menuju bakal biji.

Selama perjalanan tersebut, inti serbuk sari akan membelah menjadi inti vegetatif inti generatif pertama, dan inti generatif kedua.

Inti vegetatif berjalan di depan inti generatif, karena berperan sebagai penunjuk jalan, Setelah sampai di bakal biji, inti generatif satu (n) akan membuahi ovum dan membentuk zigot (2n).

Sedangkan inti generatif dua (n) membuahi inti kandung lembaga sekunder membentuk endosperma. Peristiwa pembuahan inilah yang dinamakan pembuahan ganda.

Pada perkembangan selanjutnya, zigot berkembang menjadi embrio calon tumbuhan baru, sedangkan endosperma digunakan sebagai sumber makanan pertama pada proses perkecambahan biji.

Bakal biji akan tumbuh menjadi biji dan bakal buah akan menjadi buah yang membungkus biji (pada beberapa spesies tumbuhan).

PENGAYAAN:

Ketika serbuk sari yang tidak berasal dari tumbuhan yang sejenis melekat pada kepala putik (stigma) maka serbuk sari tidak akan berkecambah membentuk buluh serbuk sari sehingga proses pembuahan atau fertilisasi tidak dapat terjadi. Mengapa demikian?

1. Gaya tarik-menarik antara molekul yang berbeda atau gaya adhesinya pada serbuk sari dengan kepala putik pada tumbuhan yang berbeda jenis amat lemah.

2. Gaya adhesi yang lemah menyebabkan serbuk sari mudah lepas dari kepala putik.

Permukaan serbuk sari terdapat senyawa kimia berupa lipid (lemak) dan protein termasuk enzim. Senyawa kimia ini akan bereaksi dengan senyawa kimia pada kepala putik. Jika serbuk sari tidak cocok maka reaksi kimia yang terjadi akan menghambat metabolisme dari serbuk sari sehingga serbuk sari tidak dapat berkecambah membentuk buluh serbuk sari.

Bagaimana buluh serbuk ini dapat tumbuh dan bergerak menuju tempat sel ovum secara tepat?

Karena ada gerak kemotropisme  yaitu gerakan kimia mengikuti gaya sehingga menuju ke tempat sel ovum pada tumbuhan.

Faktor-faktor Perkembangan Embrio Tumbuhan Biji

Embrio pada tumbuhan biji dapat terbentuk oleh beberapa faktor berikut.

1. Amfimiksis, yaitu apabila terjadinya embrio melalui perantara sperma dan ovum.

2. Apomiksis, yaitu apabila terjadinya embrio tidak melalui peleburan sperma dan ovum.

Apomiksis dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.

a. Apogami, yaitu embrio yang terbentuk berasal dari kandung lembaga, misalnya dari sinergid dan antipoda.

b. Partenogenesis, yaitu embrio terbentuk dari sel telur yang tidak dibuahi.

c. Embrio adventif, yaitu embrio yang terbentuk dari sel nuselus (bagian selain kandung lembaga).


Catatan:

Untuk siswa kelas IX jika sudah menuliskan materi dibuku kalian sila foto tulisan kalian, lalu kirim atau upload di link berikut:

https://forms.gle/UffbrbrAqmJUjEbW8

Selamat belajar , semangat selalu ya

Terima kasih

Senin, 17 Agustus 2020

Kuadran Pembelajaran Daring

 

            Pandemi Covid-19 menyebabkan pembelajaran siswa di sekolah dihentikan untuk sementara oleh pemerintah. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan strategi pembelajaran yang semula dilakukan secara tatap muka  menjadi pembelajaran secara daring atau belajar dari rumah.

Belajar dari rumah berdasarkan surat edaran Mendikbud nomor 04 tahun 2020 sebagai pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman yang bermakna dan pendidikan kecakapan hidup. Strategi untuk memfasilitasi hal tersebut, guru harus menyiapkan materi pembelajaran yang dapat berpengaruh terhadap pengalaman dan kecakapan hidup siswa dari konsep-konsep sederhana di lingkungan sekitarnya.

Untuk mencapai hal tersebut maka perlu strategi pembelajaran yang tepat, karena pembelajaran langsung di tempat dengan pembelajaran dalam jaringan (daring) memerlukan media yang berbeda. Media pembelajaran daring merupakan kesatuan alat atau teknologi multimedia yang disebut sebagai e-learning. Menurut Mujiarto dan Simarmata (2019:77) e-learning merupakan cara membina kegiatan belajar menggunakan alat elektronik yang berdasarkan teknologi multimedia.

Dengan pernyataan tersebut salah satu alat yang digunakan dalam e-learning adalah handphone berbasis android, maka secara umum siswa dalam tanda kutip wajib memiliki dan menggunakannya. Kenyataan di lapangan tidak semudah apa yang dibayangkan. Data hasil pengelompokan dukungan alat pembelajaran menurut penulis ada 4 kelompok (kuadran)  seperti dijelaskan dalam diagram berikut;


Pada diagram tersebut, kuadran pertama diisi oleh siswa yang mempunyai motivasi dan dukungan peralatan media belajar online. Kuadran kedua diisi oleh siswa yang kurang mempunyai motivasi belajar, tetapi mempunyai dukungan peralatan media belajar online. Kuadran ketiga diisi oleh siswa yang kurang mempunyai motivasi  belajar, tetapi mempunyai dukungan peralatan media belajar online, dan kuadran keempat diisi oleh siswa  yang kurang mempunyai niat belajar, dan tidak mempunyai dukungan peralatan media belajar online.

Dengan mengetahui empat kuadran tersebut, sekolah sebelum menerapkan pembelajaran daring seyogyanya untuk mendata kondisi siswa dari segi daya dukung perangkat hp dan juga keterjangkauan siswa dari jaringan internet. Berikut contoh tabel informasi ketersediaan HP untuk internet siswa.

Tabel Ketersediaan  HP untuk internet siswa


Dari tabel tersebut maka jika jumlah peserta didik memenuhi 100% dan pertimbangan jaringan internet memenuhi dari siswa maka kelas tersebut dapat melaksanakan pembelajaran daring.Tetapi jika persentase sekitar 60% ke atas sekolah dapat menerapkan pembelajaran daring yang dikombinasikan dengan tatap muka atau disebut semi daring. Tatap muka ini bukan berarti menerapkan pembelajaran di kelas, tetapi bisa berupa kunjungan guru ke rumah siswa yang tidak mempunyai sarana penunjang daring.

Jika persentase di bawah 50 % terkait ketersediaan alat pendukung dari siswa, maka sekolah perlu berpikir ulang dalam menerapkan pembelajaran daring dan jangan ngotot untuk memaksakan hanya untuk sekedar ikut-ikutan sekolah lain. Dari sinilah guru mempunyai peran yang penting bagaimana memompa semangat belajar dimana jika melaksanakan pembelajaran langsung masih belum diperbolehkan pemerintah karena pandemi Covid 19, dan disisi lain jika melaksanakan pembelajaran daring terkendala peralatan daring yang belum dipunyai oleh siswa.

Salah satu caranya adalah dengan pola seminggu sekali misal di hari senin perwakilan guru mendatangi rumah siswa, dimana siswa yang berdekatan rumahnya dianggap satu zonasi berkumpul disalah satu rumah siswa. Disini guru menjelaskan materi pelajaran secara umum. Setelah itu siswa diberi tugas mandiri mengerjakan tugasnya tersebut dan di hari sabtu guru dan siswa bertemu untuk membahas soal dan mengumpulkan tugas sebagai portofolio yang dibawa guru ke sekolah sebagagi arsip pembelajaran.

 Materi diskusi kunjungan siswa diambil dari KD yang dirasa penting dari silabus mata pelajaran dan tidak harus semua diajarkan. Guru dapat memberikan materi yang dapat memberikan rangsangan softkill siswa, misal sholat sunnah, hafalan surat Al-qur’an, bercocok tanam dengan hidroponik, atau membuat alat keterampilan yang bermanfaat, seperti APD berupa face shield dari botol bekas air mineral. Dengan materi yang terintegrasi keterampilan softskill tersebut maka selain mengkontekstualkan materi pembelajaran juga dapat melatih siswa dalam meningkatkan kecakapan hidup dan karakter mandiri. Harapan dari hal tersebut adalah siswa dapat menjadi generasi yang tangguh dalam menghadapi masa pandemi melalui pembelajaran daring kontekstual yang menyenangkan dan bermanfaat.

  

Referensi:

Mujianto & Simarmata Jannes. 2019. Multimedia Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Surat edaran Mendikbud nomor 04 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran covid 19


Penulis:

Hery Teguh Wiyono, S.Pd

Guru IPA 

SMP Islamiyah Widodaren Ngawi

Provinsi Jawa Timur

Minggu, 16 Agustus 2020

IHT Portofolio Digital dalam Pembelajaran

         Kegiatan In House Training (IHT) "Portofolio Digital dalam Pembelajaran" dilaksanakan di SMP Islamiyah Widodaren, Kab.Ngawi. Adapaun susunan acara sebagai berikut:

1. Pembukaan, oleh Kepala SMP Islamiyah Widodaren yaitu Bu Masyfu'ati M.,S.Pd

2. Keynote speaker, oleh Kepala SMPN 1 Widodaren, yaitum Bapak Sumardi, S.Pd., M.Si

3. Acara inti dengan nara sumber Hery Teguh Wiyono

4. Praktik dan diskusi

       Adapun materi kegiatan IHT , yaitu:

1. Media Pembelajaran Interaktif

2, Portofolio Digital dalam Pembelajaran

Link berita acara dan absensi sila klik link berikut:

https://chat-forms.com/forms/1597451181356-mbz/index.html 

atau

https://forms.gle/cz5gYuEr7W41vuKS8 

Rekap absensi sila klik link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1CvGoQpldcy-flrrJi81L6A5zBiyZttr_/view?usp=sharing 

Link youtobe tentang kegiatan sila klik link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=BpY8Du866-k atau https://www.youtube.com/watch?v=prhqLCgXr3s

Dokumentasi kegiatan:




 


ABSENSI

 ABSENSI PEMBELAJARAN

SEMINAR BEDAH BUKU MUATAN LOKAL

  




Kegiatan seminar ini diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Ngawi dengan narasumber Guru Penulis Hery TW dan Wening K. Seminar dilaksanakan tanggal 28 Juli 2020 dengan 30 peserta. Kegiatan dengan tetap memperhatikan standar protokol kesehatan, dengan mencuci tangan dan cek suhu badan serta memakai APD face shield khusus yang disiapkan oleh panitia.

Kegiatan dibuka oleh Kabid Bp.Suyatno , M.Hum, baru dilanjutkan paparan narasumber. Materi seminar dapat diakses di link Link Materi:
Dokumentasi: Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kab.Ngawihttps://www.youtube.com/watch?v=wBCH0_3ivDU&feature=youtu.bengawismart.com





Materi IPA 9

 Materi IPA 9

Materi IPA 8

Materi IPA 8

Minggu, 09 Agustus 2020

BAHAN AJAR PPT KLASIFIKASI MH KD 3.2 KELAS VII

  Bagi rekan-rekan guru mapel hebat, edukasibelajaripa.blogspot.com akan menshare bahan ajar berupa file powerpoint KD 3.2 kelas VII semester gasal. Materi tersebut sudah diupload diyoutube dalam bentuk video pembelajaran. Mohon berkenan rekan-rekan yang mendownload file ppt ini, untuk "LIKE dan SUBSCRIBED" di channel youtobe "HTW Channel"  atau http://bit.do/HTWchannel atau https://www.youtube.com/channel/UCfjlPfqg18dALviWnVjx9_w https://www.youtube.com/channel/UCfjlPfqg18dALviWnVjx9_w   supaya penulis terus berkarya dalam bidang pembelajaran IPA, jadi jangan asal mau dapat file tapi tidak mau menghargai karya penulis, karena dalam membuat bahan materi berupa ppt ataupun video pembelajaran, penulis juga membutuhkan waktu, pikiran dan energi. Hal ini juga merupakan kepedulian penulis dalam literasi,mari kita budayakan literasi dan saling menghargai karya literasi guru Indonesia. 

       Adapun KD 3.2  adalah sbb:

3.2 Mengklasififikasi makhluk Hidup dan benda berdasarkan karakteristik yang diamati

4.2. Menyajikan hasil pengklasIfikasia makhluk hidup dan benda di lingkungan sekitar berdasarkan karakteristik yang diamati

     Rincian bahan ajar ppt KD 3.2 diuraikan berikut:

1. Pengelompokan benda, sila klik disini :

2. Ciri-ciri M.H, sila klik disini :

3. Cara mengklasifikasikan tumbuhan, sila klik disini :

4. Cara mengklasifikasikan hewan, sila klik disini :

5. Kunci Determinasi, sila klik disini :

      Sila bahan ajar ppt tersebut diunduh dengan klik link HTW Channel . Terima kasih dan semoga bermanfaat dan barokah ... Aamiin.

  


Senin, 03 Agustus 2020

LKPD Pembelajaran Klasifikasi Kelas 7 SMP

Berikut adalah LK KD 3.2 yang berisi 5 LK antara  lain sbb:

1.    Pengelompokan Benda

2.    Ciri-Ciri Makhluk Hidup

3.    Cara Pengelompokan Pada Tumbuhan

4. Cara Pengelompokan Hewan

5. Membuat Kunci Determinasi

LK tersebut terangkum pada alamat berikut:

https://drive.google.com/file/d/1EO7d78izODoMsj5aq1g9W8AdrsSvODUB/view?usp=sharing

untuk materi video pembelajaran silahkan klik

https://edukasibelajaripa.blogspot.com/2020/08/materi-kd-32-klasifikasi-mh.html

MATERI KD 3.2 KLASIFIKASI MH

 
 

Berikut rangkuman materi KD 3.2 matap pelajaran IPA kelas 7 semester gasal.
Materi berupa video pembelajaran sbb:

1.    Pengelompokan Benda

https://www.youtube.com/watch?v=5kjnjAcDv_0

2.    Pembelajaran Ciri-Ciri Makhluk Hidup

https://www.youtube.com/watch?v=jb1VwbK3ZLU

3.    Cara Pengelompokan Pada Tumbuhan

https://www.youtube.com/watch?v=lCsNQWC1dsE

4.    Cara Pengelompokan Hewan

https://www.youtube.com/watch?v=Y_1WTVMSWVQ

5.    Membuat Kunci Determinasi

https://www.youtube.com/watch?v=hB2jLuUVgUs


untuk link LKPD klik https://sites.google.com/view/edukasi-belajar-ipa/kelas-7



Jumat, 06 Maret 2020

TELAAH PUSTAKA BUDAYA MATARAMAN (BUMI OREK-OREK)




Kawasan kebudayaan di Jawa Timur menurut Heru SP Saputra dibagi menjadi 6 wilayah yaitu kebudayaan Arek (Surabayan), kebudayaan Tengger, kebudayaan Madura, kebudayaan Mataraman, kebudayaan Pendalungan dan kebudayaan Using. Budaya Ngawi (Bumi Orek-Orek) merupakan salah satu bagian dari budaya Mataraman. Tentu saja kalau kita amati banyak sekali keragaman budaya dalam balutan kearifan lokal yang ada di Kab.Ngawi.
Dalam hal tersebut penulis mendapatkan amanah bersama Tim Dinas Kearsipan Daerah dan Perpustakaan Kab.Ngawi yaitu Bapak Slamet bersama Bapak Suyatno sebagai Kabid perpustakaan. Bersama beliau kami memadukan konsep yang akan kami sampaikan kepada narasumber utama yaitu Drs. Sudjono,M.M yang menjabat kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur.Setelah beberapa diskusi, artikel yang kami sodorkan mendapatkan masukan untuk diperbaiki. 
Kamis pagi hari setelah subuh, tanggal 5 Maret 2020, kami berangkat pada acara telaah Budaya di Yogyakarta. Walaupun hujan gerimis, selama perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya kami tiba tepat waktu  di Balai Ghratama Pustaka. Tampak sudah menunggu di depan lobi sosok yang berwibawa dengan senyuman ramah melambai kepada kami. Ya…beliau adalah Pak Jono. Walau sebagai Kabid Provinsi dengan pangkat Pustakawan Ahli Utama dan pernah menjabat menjadi Pj Bupati Ngawi dan Nganjuk, tidak menampakkan aura pembatas antara sosok pemimpin dan bawahan. Justru beliau sangat ramah dan sesekali mengajak kami bercanda di antara tamu lain yang ada.
Peserta telaah budaya ini dihadiri oleh perwakilan 6 Provinsi di Jawa, yaitu DIY, Jatim, Jateng, Jabar, Banten,dan DKI.Selaian itu tampak pustakawan, mahasiswa dan  budayawan. Kebetulan penulis sempat berbincang share dengan Pak Agus Budayawan Yogya yang berasal dari Ngawi.
Acara digelar oleh Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Budaya Panji Dan Budaya Mataraman di Jawa Timur” (5/3) di Ruang Seminar Grhatama Pustaka ini, selain Bp.Jono sebagai narasumber dalam membawakan materi sharing dengan tim Arsipda Ngawi, juga dihadiri narasumber lain yaitu  Budayawan dari Sidoarjo yaitu Bapak Henri Cahyono yang membawakan tema Budaya Panji.
Adapun rincian materi telaah budaya terangkum sebagai berikut:
Perpustakaan berdasarkan UU Perpustakaan nomer 43 tahun 2007, Pasal 1, ayat 1)adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka, Sedangkan jenis-jenis perpustakaan:Perpusnas RI, Perpustakaan umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan khusus, Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.
Definisi budaya menurut KBBI merupakan Pikiran, akal budi atau adat istiadat; hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi manusia, misalnya  kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.
Sedangkan menurut Koentjaraningrat budaya merupakan hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal.
 Ragam budaya mencerminkan identitas  suatu negara. Dapat meliputi  pakaian, bahasa, rumah adat, maupun makanan dsb.  Sedangkan ragam budaya Indonesia  merupakan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia dalam tautan Bhinneka Tunggal Ika
                Definisi literasi adalah kemampuan seseorang mengumpulkan informasi dari sumber-sumber bacaaan berupa buku, koran, majalah serta sumber-sumber lainnya. Kemampuan seseorang memahami yang tersirat dari yang tersurat dan kemampuan seseorang mengemukakan ide-ide sesuai informasi dan pengetahuan yang dimiliki.
Dalam hal pelestarian budaya, maka perlu mengkaji periodisasi generasi. Alasannya adalah perkembangan pesat teknologi membawa dampak positif dan negatif perilaku bagi generasi tersebut.
Adapaun dampak perubahan budaya membaca adalah minat baca berkurang, anak cenderung suka melihat gambar daripada membaca tuntas buku bacaan dan terjadi transformasi membaca melalui gadget smartphone yang lebih diminati. Oleh karena itu perlu adanya link connector antara untuk menangkal budaya negatif perilaku remaja dengan kearifan lokal.
Kata Ngawi berasal dari Bahasa sanskerta kata “awi” yang berarti bambu dan mendapatkan inmbuhan kata “ng:” menjadi ngawi. Kenapa Ngawi  disebut Bumi Orek-Orek?
Ngawi dikenal sebagai Bumi Orek Orek sejak tahun 1980an. Sebab adanya Tari Orek Orek yang sejak 1960an tumbuh subur dan berkembang dimasyarakat luas. Hampir disetiap acara tari ini selalu dipentaskan.  Tarian dengan gerak dinamis dengan pemain terdiri dari pria, wanita berpasangan. Menggambarkan muda mudi masyarakat desa yang sehabis kerja berat gotong royong, melakukan tarian gembira ria untuk melepaskan lelah.
Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah daerah Kab.Ngawi adalah menerapkan branding budaya yang dikenal dengan istilah “Branding Budaya Bumi Orek-Orek” .Branding budaya merupakan sebuah terobosan atau usaha dalam hal pengenalan kearifan lokal yang berupa cerita, tempat ataupun sejarah yang terdapat di Bumi Orek-Orek atau Ngawi “Ramah” kepada generasi muda untuk mendapatkan nilai-nilai edukasi yang berkarakter positif dalam pelestarian budaya. Oleh karena itu perpustakaan dapat berperan juga sebagai mediator dalam menggali branding budaya tersebut. Contoh kegiatan ini adalah dengan melakukan pendataan kearifan lokal yang ada lalu dikumpulkan dalam sebuah buku. Cara ini juga mudah dilakukan, yaitu dengan berkolaborasi dengan penulis untuk mengumpulkan data kearifan lokal yang ada untuk dikemas dalam bentuk tulisan bertemakan kearifan lokal setempat.
Dengan adanya data kearifan lokal tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai tali penghubung bagi generasi jaman now yang mengalami modernisasi gadget dan tidak kenal tentang apa itu sejarah maupun cerita nina bobo saat menjelang tidur. Selain itu dapat digunakan untuk mengenalkan dan mengajarkan falsafah sosial dan budaya dari nilai-nilai isi cerita di “Bumi Orek-Orek” yaitu  Kabupaten Ngawi.
Nilai pelestarian lingkungan, misalnya adanya sumber air atau “sendang” di pinggir sungai yang merupakan sebagai bagian alam wajib dipelihara dan dilestarikan. Termasuk lingkungan di sekitar sendang yaitu sungai dan hutan maka wajib di dukung sepenuhnya sebagai bagian masyarakat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Nilai pelestarian ini juga terlihat dengan usaha penangkaran rusa di Monumen Suryo,
Beberapa tempat yang mempunyai hubungan dengan budaya juga banyak dijumpai di Ngawi misalnya Benteng Pendem Van Den Bosch pada masa era Perang Diponegoro, Museum Trinil tempat ditemukannya manusia purba Pytecantropus erectus dan situs arca hindu di Kecamatan Widodaren yang semua tempat tersebut juga mempunyai
Nilai budaya lain seperti kerjasama dapat terlihat dalam keseharian masyarakat seperti melakukan bakti di lingkungan sekitar misal balai desa, mushola, masjid. Dalam istilah jawa kerjabakti ini disenut “Gugur gunung” atau disebut juga sebagai “bina lingkungan” Bina lingkungan ini merupakan salah satu bentuk kemitraan warga setempat sebagai sistem sosial yang merupakan bagian dari struktur masyarakat
Nilai kepemimpinan dan nasionalisme dapat terlihat dari situs peninggalan Dr. Radjiman atau biasa di sebut sebagai Situs Kanjeng Dirgo. Nilai ini terlihat dari usaha beliau dengan memperjuangkan kemerdekaan melaui organisasi kebangsaan dan bidang kedokteran. Jiwa kepemimpinan ini juga terlihat seperti cerita tentang Mbah Wo Karsorejo, seorang tokoh lokal yang memberikan contoh sebagai pemimpin yang mau mencintai dan dekat dengan rakyat.
Cara lain dalam hal branding budaya adalah melakukan kolaborasi dengan seniman dalam menciptakan karya. Karya tersebut dapat berupa lagu, puisi maupun tari yang juga mempunyai tema kearifan lokal tempat di Ngawi. Beberapa lagu yang ngehits mulai bermuculan dari usaha branding budaya ini yang dilakukan oleh para generasi muda seperti Deny Cak Nan dengan lagu “Kartonyono Medot Janji” dan Talita Salsabila yang masih berstatus pelajar SMP dengan lagu “Taman Dungus” dan “Kota Ngawi”. Tempat lain misalnya Kebun Teh Jamus juga dijadikan lirik lagu oleh Darsono dan sempat dinyanyikan oleh penyanyi dangdut terkenal yaitu Via Vallen. seniman senior juga telah lama mengangkat lagu bertemakan tempat di Ngawi misal Didi Kempot dengan lagu Terminal Kertonegoro.
Bahkan Bupati Ngawi Ir.H. Budi Sulistyono atau biasa dipanggil “Mbah Kung” mencetuskan program “Sangawiah”, yaitu “Salam Ngawi Ramah” sejak tahun 2012.   Salam Ngawi Ramah ini dilakukan dengan cara pembiasaan jika dalam suatu acara atau pada saat kegiatan memberikan salam “Assalamualaikum warakhmatulahi wabarakatuh” dan audien menjawab “Wassalamualaikum warakhmatulahi wabarakatuh” dan setelah menjawab langsung diiringi dengan aplaus tepuk tangan bersama-sama. Sangawiah dilaksanakan di setiap kegiatan di instansi pemerintahan maupun kunjungan masyarakat dalam setiap sambutan ataupun kegiatan di sekolah, intansi dinas maupun kegiatan kemasyarakatan melakukan pembiasaaan dengan cara mengucapkan salam ramah tersebut.
Dari beberapa kajian di atas dengan melihat adanya berbagai ragam kearifan lokal sebagai cerminan budaya  di masyarakat Ngawi tentu merupakan keunikan yang perlu kita lestarikan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Furdyantanta (2008: 44) bahwa kearifan lokal merupakan ranah budaya manusia, dimana fungsi jiwa manusia dapat terbagi menjadi fungsi kognisi (cipta), afeksi (perasaan) dan konasi (karsa). Tiga Fungsi tersebut atau dikenal dengan istilah trisakti dalam perpaduan yang harmonis menjelma menjadi budi pekerti manusia. Dimana budi perkerti manusia merupakan bagian budaya karakter yang baik, terlebih untuk menangkal budaya luar yang dapat merusak moral generasi bangsa. Oleh karena itu dengan mengenalkan budaya terhadap generasi muda adalah cara yang baik untuk melestarikan budaya leluhur kita di “Bumi Orek-Orek”.
Untuk artikel saya dalam acara kegiatan tersebut, dapat diunduh dengan klik tautan berikut  https://drive.google.com/file/d/1Nq1CnXaVbTHVn7X2UgFSN5l3yeMNomYO/view?usp=sharing
 Semoga bermanfaat dan terima kasih.
.